Inilah Usia Ideal Pernikahan

 

Inilah Usia Ideal Pernikahan

Perkawinan merupakan suatu lembaga suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, sesuai dengan Undang-Undang Perkawinan yang menyebutkan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah-tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama, sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir/jasmani, tetapi juga memiliki unsur batin/rohani yang mempunyai peranan penting. 

Menikah merupakan sunnatullah, sunnah para rasul dan merupakan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Tujuan perkawinan ialah untuk membangun rumah-tangga yang bahagia, harmonis, tenteram, dan sakinah.Pernikahan adalah sebuah istitusi terpenting dalam kehidupan manusia, menikah bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan seksualitas walaupun itu juga merupakan tujuan pernikahan. 

Tapi menikah merupakan cita-cita besar dalam membangun peradaban dunia karena langkah awal bagi dua insan dalam membentuk sebuah keluarga yang solid yang kelak melahirkan genarasi-generasi qur’ani. 

Idealnya seorang yang memutuskan untuk menikah memiliki bekal yang cukup untuk agar dapat mengarungi kehidupan rumah tangga dengan berbagai kompleksitas permasalahan. Saya yakin kita semua sepakat bahwa pernikakan bukan masalah sepele tetapi menyangkut sejarah hidup dan masa depan sesorang. Tentu untuk hal yang tidak sepele dibutuhkan persiapan yang matang dan serius baik dari segi jasmani maupun rohani, fisik, psikis dan mental.

Kesiapan menikah sangat identik dengan kematangan usia. Karena di usia yang matang maka seseorang telah mampu berfikir dewasa, telah memiliki cukup pendidikan dan pengalaman, bertanggung jawab dalam hal financial dan tentunya telah matang dalam berreproduksi.

Sebagai upaya menjembatani antara kebutuhan kodrati manusia dengan pencapaian esensi dari suatu perkawinan, Undang-Undang Perkawinan Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 telah menetapkan dasar dan syarat yang harus dipenuhi dalam perkawinan. Salah satu di antaranya adalah ketentuan dalam Pasal 7 ayat (1) yang menyatakan, “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun”.

Batasan ini di maksudnya untuk menjaga kesehatan suami istri dan keturunan. Dari adanya batasan usia ini dapat ditafsirkan bahwa Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 tidak mengehendaki pelaksanaan perkawinan di bawah umur. Perkawinan di bawah umur bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia, praktek ini sudah lama terjadi dengan begitu banyak pelaku baik di kota besar maupun di pedalaman. Sebabnya-pun bervariasi, baik itu disebabkan karena masalah ekonomi, rendahnya pendidikan, pemahaman budaya dan agama, pergaulan bebas dan sebagainya.

Dampak Negatif dari Pernikahan di Bawah UmurMasalah pernikahan dini bukanlah fenomena baru, maraknya pernikahan dini semakin hari semakin memprihatinkan yang melahirkan berbagai persoalan lanjutan. Banyak batasan mengenai arti pernikahan dini, tetapi secara umum disebutkan pernikahan dini adalah pernikahan manusia masih remaja atau masa peralihan antara masa anak-anak ke dewasa. Saat pernikahan mereka bisa dikatakan bukan lagi anak, baik bentuk badan, sikap dan cara berpikir serta bertindak, namun bukan pula orang dewasa yang telah matang berfikir.

Banyak efek negatif dari pernikahan dini. Pada saat itu pengantinnya belum siap untuk menghadapi tanggung jawab yang harus diemban seperti orang dewasa. Padahal kalau menikah itu kedua belah pihak harus sudah cukup dewasa dan siap untuk menghadapi permasalahan-permasalahan baik itu ekonomi, pasangan, maupun anak. 

Sementara itu mereka yang menikah dini umumnya belum cukup mampu menyelesaikan permasalahan secara matang. Selain itu, remaja yang menikah dini baik secara fisik maupun biologis belum cukup matang untuk memiliki anak. Sehingga kemungkinan anak dan ibu meninggal saat melahirkan lebih tinggi. Idealnya menikah itu pada saat dewasa awal yaitu sekitar 20 tahun untuk wanita, sementara untuk pria itu 25 tahun. Karena secara biologis dan psikis sudah matang, sehingga fisiknya untuk memiliki keturunan sudah cukup matang. Artinya risiko melahirkan anak cacat atau meninggal itu tidak besar.

Unsur biologis juga lebih dinomorsatukan daripada segi psikologis. Mengapa? Karena kematangan psikologis itu tidak ditentukan batasan usia, karena ada juga yang sudah berumur tapi masih seperti anak kecil. Atau ada juga yang masih muda tapi pikirannya sudah dewasa. Kondisi kematangan psikologis ibu menjadi hal utama karena sangat berpengaruh terhadap pola asuh anak di kemudian hari.

Setiap wanita beresiko tinggi terkena kanker leher rahim atau serviks tanpa memandang usia maupun gaya hidup. Yayasan Kanker Indonesia (YKI) pun mencatat kasus baru. Sebanyak 40-45 orang per hari terkena kanker. Dengan resiko kematian mencapai separoh lebih. Atau setiap satu jam, seorang wanita meninggal karena mengindap serviks.

Kanker leher rahim merupakan masalah kesehatan yang tidak hanya mengganggu fisik dan kehidupan seksual saja. Tetapi juga mengganggu psikologis. Pernikahan dini salah satu penyebab utama terjadinya kanker leher rahim pada wanita. Perempuan yang menikah dibawah umur 20 tahun beresiko terkena kanker leher rahim. Pada masa transisi sel-sel leher rahim belum matang, rawan akan terjadinya infeksi saat berhubungan suami istri. Tidak itu saja, terlalu sering melahirkan, kontrasepsi oral jangka panjang dan kurangnya perawatan kebersihan juga berpeluang terkena serviks.

Berapa Batasan Usia Menikah Dalam IslamPada dasarnya, Hukum Islam tidak mengatur secara mutlak tentang batas umur perkawinan. Tidak adanya ketentuan agama tentang batas umur minimal dan maksimal untuk melangsungkan perkawinan diasumsikan memberi kelonggaran bagi manusia untuk mengaturnya. Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa orang yang akan melangsungkan perkawinan haruslah orang yang siap dan mampu sebagaimana dalam firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 32.

Usia dewasa dalam fiqh ditentukan dengan tanda-tanda yang bersifat jasmani yaitu tanda-tanda baligh secara umum antara lain, sempurnanya umur 15 (lima belas) tahun bagi pria, ihtilam bagi pria dan haid pada wanita minimal pada umur 9 (sembilan) tahun. Ukuran kedewasaan yang diukur dengan kriteria baligh ini tidak bersifat kaku (relatif). Artinya, jika secara kasuistik memang sangat mendesak kedua calon mempelai harus segera dikawinkan, sebagai perwujudan metode sadd al-zari’ah untuk menghindari kemungkinan timbulnya mudharat yang lebih besar.

Perkawinan sebagai salah satu bentuk pembebanan hukum tidak cukup hanya dengan mensyaratkan baligh (cukup umur) saja. Pembebanan hukum (taklif) didasarkan pada akal (aqil, mumayyiz), baligh (cukup umur) dan pemahaman. Maksudnya seseorang baru bisa dibebani hukum apabila ia berakal dan dapat memahami secara baik terhadap taklif yang ditujukan kepadanya.

Hampir semua Negara berpenduduk mayoritas muslim mencantumkan batasan usia minimum pernikahan dalam undang-undang perkawinanya. Pembatasan tersebut dimaksudkan untuk menakar kesiapan, kedewasaan serta kesiapan mental seseorang dalam memikul tngguing jawab. Pembatasan usia pada dasarnya untuk mewujudkan pernikahan yang sesuai dengan maqasid al-shariah diantaranya adalah tercapainya kemaslahatan. Walaupun pembatasan usia menuai pro dan kontra khususnya dikalangan umat muslim tetapi pembatasan usia pernikahan dimaksudkan untuk menghindari adanya pernikahan dini.

Beberapa negara muslim berbeda pula dalam menentukan batasan usia minimal perkawinan. Perbedaan penetapan batas usia ini tidak terlepas dari pengaruh lingkungan, geografis dan budaya pada masing-masing negara. Seperti di Mesir batasan usia pria 18 tahun dan wanita 16 tahun. Irak batasan usia pria 18 tahun dan wanita 18 tahun, Syiria menetapkan batasan usia untuk pria 18 tahun dan wanita 17 tahun, Negara Turki menetapkan usia minimal untuk pria 17 tahun dan wanita 15 tahun. Sedangkan untuk jiran kita Malaysia menetapkan batasan usia pria 18 tahun dan wanita dibatasi berusia 16 tahun.

Mencegah Seks Bebas dengan Pernikahan Dini, apakah solusi?Perkawinan adalah perpaduan antara anjuran perintah agama, tanggung jawab dan menyalurkan kebutuhan biologis serta rasa cinta. Untuk mewujudkan sebuah rumah tangga yang berkualitas dan mampu melaksanakan tugas serta tanggung dan kewajibannya dibutukan persiapan baik aspek biologis maupun aspek psikologis. Aspek biologis berkaitan dengan kematangan usia memasuki pernikahan. 

Bagaimanapun suatu perkawinan yang sukses tidak dapat diharapkan dari mereka yang mentah, baik fisik maupun mental emosional. Usia 16 tahun untuk masa sekarang dianggap masih anak-anak dan secara psikologis, sosiologis dan organ reproduksinya belum sempurna. Jika pernikahan dilakukan hanya demi legalitas aktifitas seksualitas maka pernikahan akan menjadi sia-sia.

Mencegah pergaulan bebas atau seks bebas yang semakin marak dalam pergaulan remaja di era modern saat ini dengan melakukan pernikahan dini bukanlah solusi, Ibaratnya mengatasi masalah dengan masalah. Banyak masalah menunggu anak-anak yang terpaksa atau dipaksa menikah dini. Akan jauh lebih baik dan sehat untuk memberikan pendidikan seks dan kesehatan reproduksi sesuai dengan usia dan perkembangan anak yang ditekankan kepada tanggung jawab, hak, dan kewajiban terhadap organ-organ reproduksinya. 

Untuk mencegah pergaulan bebas perlu adanya dukungan semua pihak terutama keluarga yang memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak-anak dengan membekali anak-anak dengan pendidikan agama dan memantau pergaulan anak-anak serta pengawasan yang intensif terhadap media komunikasi. Mendesak pemerintah untuk serius membuat kebijakan-kebijakan yang kondusif dalam membangun mentalitas remaja agar jauh dari pergaulan bebas.

Perkawinan meminta kedewasaan dan tanggung jawab dan oleh karenanya anak-anak muda sebaiknya menunggu dengan sabar sampai memasuki usia 19 tahun dengan melakukan kegiatan yang positive sembari terus belajar dan berprestasi. Sekali lagi ini bukan persoalan memberi ruang waktu yang panjang untuk generasi kita bermaksiat, tapi ini persoalan memberi kesempatan untuk generasi kita mempersiapkan bekal dalam mewujudkan keluarga yang berkualitas.

Posting Komentar untuk "Inilah Usia Ideal Pernikahan"